Meisya Sallwa in Advertising Week by University of Indonesia

Advertising Week Festival 2025: Kolaborasi AI, Kreativitas Lokal, dan Masa Depan Periklanan

Depok, 17 Mei 2025 – Di tengah transformasi digital yang makin cepat, Advertising Week Festival 2025 hadir bukan hanya sebagai ajang tahunan periklanan, tapi sebagai ruang refleksi dan kolaborasi bagi pelaku industri kreatif Indonesia. Dari perbincangan soal AI dalam iklan, kekuatan storytelling lokal, hingga tantangan komunikasi generasi Z, festival ini jadi potret utuh tentang arah baru industri yang makin humanis sekaligus canggih. Lewat sesi-sesi AdTalks yang inspiratif, apresiasi bagi content creator lokal, dan dialog lintas generasi, AWF 2025 membuktikan bahwa masa depan periklanan bukan hanya soal algoritma atau tren viral—tetapi soal makna, hubungan emosional, dan keberanian bercerita dari hati.

Kreativitas Lokal di Panggung Utama

Dari awal acara, ada satu benang merah yang terasa kuat: karya lokal punya kekuatan global. Ini bukan sekadar jargon, tapi diperkuat langsung lewat sambutan dari tokoh-tokoh penting, seperti Bapak Deni Danial Kesa dari Universitas Indonesia yang bilang, “Kreativitas itu nggak bisa berdiri sendiri. Ia butuh sentuhan manusia dan alat bantu teknologi seperti AI. Tapi AI bukan pengganti—ia hanya alat.”

Dan betul saja, tema ini terus bergema sepanjang festival. Di panggung keynote, Bapak Cecep Rukendi dari Kemenparekraf menegaskan bagaimana ekonomi kreatif kini jadi motor penting, terutama kalau kita tahu cara menjaga hak kekayaan intelektual (HKI). Ia bahkan menyebut kesuksesan film animasi Jumbo yang berhasil ditonton lebih dari 10 juta orang—bukti bahwa produk lokal bisa melangkah jauh asal kita serius mengelolanya.

Dari Kamera Sampai Podcast: Apresiasi untuk Yang Berani Bercerita

Yang bikin acara ini beda dari festival kebanyakan adalah caranya merayakan para pemain lokal yang udah berkarya tanpa banyak sorotan kamera. Ada Difotoin.id yang kreatif banget dalam aktifasi brand, Podcast Malam Kliwon yang sukses membangun suasana lewat audio storytelling, sampai Potostock yang jadi oase buat pencari konten visual lokal berkualitas.

Nggak ketinggalan juga para content creator—dari beauty sampai edukasi—yang berhasil menunjukkan bahwa jadi “influencer” bukan soal viralitas, tapi soal makna dan kontribusi. Nama-nama seperti Tifara Emelyn, Sarah Layyina, sampai Dalim Nurdin jadi highlight tersendiri yang inspiratif.

AdTalks: Tempat Ilmu, Ide, dan Ego Bertemu

Panel diskusinya? Nggak main-main. Tiap sesi AdTalks dibuka dengan vibe yang ringan tapi dalam. Salah satu yang paling menarik adalah sesi bareng Jesslyn Dorothea dan Ricky Pesik, yang ngebahas gimana iklan sekarang bukan lagi soal billboard atau TV spot, tapi konten organik, user-generated content, dan kolaborasi dengan KOL. Bahkan, strategi Spark Ads di TikTok ikut dibahas.

Ada juga sesi bareng Muhammad Faisal dari Youth Laboratory Indonesia yang menelusuri karakter Gen Z lewat pendekatan etnografi. Ia menyentuh sisi psikologis dan sosial generasi ini—terutama mereka yang “dibesarkan” secara digital akibat pandemi. Insightful banget.

Diskusi makin dalam saat Selliane Halia Ishak dan Sandru Emil ngomongin masa depan industri. AI, big data, regulasi digital—semua dibedah tanpa jargon. Yang menarik: mereka sepakat bahwa “manusia” tetap jadi faktor kunci, karena algoritma nggak bisa sepenuhnya ngerti nuansa dan emosi audiens.

Dari Film ke IP: Cerita Jumbo yang Nggak Berhenti di Bioskop

Kalau kamu pikir Jumbo cuma film animasi lucu, kamu ketinggalan. Christian Immanuel dari Visinema ngasih behind-the-scenes gimana film itu sebenarnya dirancang untuk jadi IP jangka panjang. Bayangin Upin Ipin versi Indonesia—itu target besarnya. Ini bukti kalau cerita lokal bisa jadi brand global asal digarap serius.

Di Era Algoritma, “Intensi” Jadi Mata Uang Baru

Di salah satu sesi paling emosional, Meisya Sallwa, seorang content creator, bilang, “Perhatian itu bukan tentang viralitas, tapi tentang niat.” Ia ngingetin bahwa bikin konten bermakna lebih penting dari sekadar ngejar angka. Dan ini bukan cuma quote manis—tapi prinsip hidup buat siapa pun yang mau bertahan lama di industri ini.

Penutup: Festival yang Nggak Sekadar Festival

AWF 2025 membuktikan satu hal penting: masa depan industri periklanan nggak melulu tentang tren. Tapi tentang koneksi, cerita, dan kemauan buat terus beradaptasi. Dari ruang-ruang diskusi sampai panggung penghargaan, festival ini adalah panggung bagi mimpi, ide, dan keberanian buat tampil beda.

Karena pada akhirnya, yang membedakan satu brand dengan brand lainnya bukan cuma produknya—tapi ceritanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *